Showing posts with label Temanggungan. Show all posts
Showing posts with label Temanggungan. Show all posts

Thursday, January 12, 2012

Kebersamaan (3)

Begitu memasuki dusun Prampelan, desa Kemloko, Tembarak, suara rebana sayup-sayup mulai terdengar. Awalnya terdengar sayup, makin mendekat, suara rebana berirama padang psar itu semakin kencang. Rebana yang ditabuh anak-anak IPNU itu seolah membelah lereng timur gunung Sumbing yang terlihat begitu perkasa.

Hari itu, Minggu, 4 desember 2011, merupakan hari istimewa bagi masyarakat Kemloko, karena per hari itu, mereka akan memiliki perpustakaan yang disumbang oleh FIKT. Dan yang membikin hari itu makin istimewa adalah kedatangan pak Bupati yang sudah lama dinanti-nanti oleh masyarakat. Pak Bupati dijadwalkan akan meresmikan perpustakaan.

Bukan hanya rebana yang memeriahkan prosesi acara peresmian, tetapi juga drumband dari anak-anak MI (Madrasah Ibtidaiyah) di Kemloko. Barangkali sebelumnya tak terbayangkan bahwa sebuah desa di lokasi teratas di lereng timur Sumbing itu memiliki grup drumband. Pada 1990-an ke bawah, drumband hanya dimiliki sekolah elit di Temanggung.

Ratusan masyarakat terlihat sudah siap menanti kedatangan rombongan FIKT dan pak Bupati. Ada yang berdiri di jalan di depan balai desa yang nantinya digunakan sebagai lokasi pembukaan acara, ada yang berdiri di depan rumah masing-masing. Orangtua anak-anak mudah, remaja, dan anak-anak berbaur menjadi satu.

Rombongan FIKT dari Suronatan berangkat lima mobil. Beberapa teman lain langsung dari rumah masing-masing menuju Kemoloko. Begitu sampai di Kemoloko ternyata sudah banyak kadang FIKT yang sudah sampai. Memang, sebelumnya saya umumkan bahwa peresmian akan dilakukan pukul 08.15, dan rupanya banyak teman-teman FIKT yang sudah datang duluan sebelum ‘teng’.

Sekitar pukul 08.45 pak Bupati datang. Begitu keluar dari mobil, langsung menuju balai desa. Ketika mendekati pintu m,asuk, pak Bupati menyempatkan diri bersalaman dengan anak-anak MI yang nantinya ikut memeriahkan acara dengan lagu-lagu. Satu per satu disalami, dari ujung halaman sampai ujung pintu. Begitu masuk, salaman dilanjutkan dengan tokoh masyarakat dan ulama Kemloko, juga anak-anak muda IPNU.

Begitu selesai salam-salam, semuanya duduk di tempat masing-masing, dan acara pun dimulai. Pembawa acara memberikan pengantar tentang betapa pentingnya buku bagi kemajuan peradaban manusia. Lewat buku kita bisa menjelajah ke seluruh pelosok dunia melalui imajinasi kita.

Setelah itu kemudian dimulai sambutan dari pak Kades. Dalam kesempatan itu pak Kades menyatakan terimakasihnya kepada Bupati yang berkenan datang ke Kemloko. Dikatakan, setidaknya sudah dua kali pak Bupati berencana datang ke Kemloko, tetapi mendadak ada acara yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya batal. Di kesempatan langka itu pak Kades juga minta agar jalan menjuju Kemloko dihaluskan.

Setelah pak Kades giliran saya. Tidak banyak yang saya sampaikan kecuali bahwa perustakaan yang didirikan di Kemloko ini adalah amanah dari para donatur yang tergabung dalam FIKT. Karena itu, buku yang diberikan dibaca agar memberi manfaat buat masyarakat. Tetapi juga jangan lupa, tetap dirawat. ‘’Hanya dua pesan kami…pertama, baca..baca..baca.. dan kedua, rawat, rawat, rawat…’’

Selesai itu, kemudian sambutan pak Bupati. Tapi sebelumnya diisi dulu dengan pertunjukan pantomim dari murid Cendikia Mandiri. Pantomim itu bercerita tentang lahirnya kembali seorang anak manusia menjadi orang yang benar, setelah sebelumnya tenggelam dalam dunia yang penuh dengan kekelaman.

Usai pantomim, giliran pak Bupati memberikan sambutan. Cukup lama sambutan dari pak Bupati dan isinya bervariasi. Mulai dari kedatangan pertama di Kemloko setelah menjadi bupati, masalah pertanian terutama optimalisasi penanaman jagung, dan disinggung pula tentang pembangunan jalan.

Soal jalan, pak Bupati mengaitkan antara pembayran Pajab Bumi Bangunan (PBB) dengan jalan yang sudah saatnya diperbaiki. ‘’Lha niki masyarakat Kemloko pun nglunasi PBB nopo dereng? Ngisin-ngisini nek during mbayar, wong tuku sepeda motor gampang kok PBB during mbayar…,’’ selorohnya.

Satu hal lagi yang disampaikan pak Bupati adalah posisinya sebagai bupati. ‘’Saya ini pelayan…pelayan bagi masyarakat..karena jadi bupati, ya berarti saya kepala pelayan. Siapa yang dilayani…ya panjenengan-penjenengan ini.. jadi kalau salah, nek pelayan dikongkon salah, ya dimarahi saja saya.’’

Tapi, sambung pak Bupati, masyarakat sebagi ndoro juga harus konsekuen. ‘’Ibaratnya saya menyuruh pembantu beli rokok, maka saya harus memberi uang pada pembantu itu. Begitu juga kalau masyarakat menyuruh saya membangun jalan, ya masyarakat sebagai ndoro harus membayar dulu PBB-nya baru nyuruh pelayan membangun jalan. Gerr..sindiran halus itu disambut tawa hadirin yang ada di balai desa itu.

Seingat saya, Walikota Yogyakarta periode sebelum sekarang, Herry Zudianto juga pernah memproklamirkan diri bahwa dirinya kepala pelayan masyarakat. Walikota itu sukses dalam mengubah mental birokrat yang tadinya cenderung minta diloayani, menjadi melayani. Beberapa penghargaan mengalir untuk walikota dua periode tersebut. Umumnya, pemimpin daerah yang berhasil memang menempatkan diri sebagai pelayanan masyarakat.

Selesai sambutan Bupati, saya secara simbolis menyerahkan buku kepada pak Kades. Saya minta ke panitia agar buku yang diserahkan nanti, buku yang saya tulis. ‘’Ini buku tulisan saya, untuk mengingatkan bahwa orang-orang Temanggung itu banyak yang sudah menulis buku. Makanya saya sudah mendiskusikan dengan mas Bambang Edhi agar bisa dialokasikan tempat di perpustakaan sekaligus lemari khusus untuk buku karangan orang Temanggung.’’

Selesai pembukaan, hadirin langsung menuju ke lokasi perpustakaan.

‘’Ooo…masih harus jalan ya..’’kata pak Bupati ke saya sambil melihat jam tangan.

‘’Iya pak..tapi sebentar kok, kemarin saya ukur Cuma tiga menit jalan..’’

Begitu keluar pintu, drumband dari anak-anak MI langsung ditabuh. Perjalanan dari balai desa ke gedung tempat perpustakaan diresmikan diiringi dengan drumband. Tiga menit lebih sedikit, sampai ke gedung IPNU. Di situlah perpustakaan berada. Nantinya yang akan menjaga perpustakaan adalah pemuda IPNU, sekali-kali kerjasama dengan pengelola Cemani.

Gedung itu berlanta dua. Lantai satu dipergunakan untuk sekolah taman kanak-kanak. Lantai dua untuk pertemuan. Nah perpustakaan di tempatkan di lantai dua dengan menyekat ruangan. Jadi nantinya di lantai dua ada ruang pertemuan dan perpustakaan. Sekat itu nantinya dibuat dari kayu yang bisa dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan ruangan.

‘’Bismillahirrahmanirrohim…’’ Kres…pita telah tergunting, berarti secara resmi perpustakaan tersebut sudah dibuka oleh pak Bupati. Sejenak kita semua melihat-lihat buku yang dipajang diperpustakaan itu. Sebagian besar buku anak-anak dan remaja, kemudian ada buku tentang pertanian dan pengolahan hasil pertanian, ada juga buku agama, dan tak ketinggalan buku tentang motivasi.

Selesai peresmian pak Bupati langsung pamit karena harus ke Grabag untuk menghadiri pengajian. Itu pun sebetulnya waktu sudah lompat dari yang semula dijadwalkan, saat itu sudah sekitar pukul 10.15. Jika saja jadwal masih longgar, panitia sudah menyiapkan nasi jagung dan perangkatnya seperti sayur dan gereh untuk dinikmati untuk pak Bupati. Time is over. Tapi tak apa. Kehadiran Bupati saja sudah sangat melegakan Kemloko dan FIKT.

Acara ditutup dengan makan nasi jagung. Sebelum makan disediakan juga makanan ringan, ada pisang rebus, kacang rebus, dan entho cotot. Selain dari FIKT, di ruangan bawah yang disiapkan untuk ramah-tamah itu, ada juga pak Camat Tembarak, pak Lurah, dan tak ketinggalan mas Diran dkk dari DHC-45 Temanggung.

Dalam kesempatan itu, saya selaku ketua panitia dan juga ketua FIKT merasa bersyukur karena seluruh rangkaian acara sejak Sabtu sampai Minggu berjelan lancar. Tak lupa saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada kadang FIKT, yang telah berjibaku mensukseskan acara ini. Kerja keras dan kerja ihlas dengan berbagai pengorbanan, tidak akan sia-sia.

Pak Camat juga menyatakan terimakasihnya karena salah satu desa yang berada di wilayahnya diberi hadiah istimewa berupa perpustakaan. Diharapkan perpustakaan itu akan meningkatkan minat baca di Kemloko. Begitu pula pak Lurah yang menyatakan terimakasihnya kepada FIKT dan sekaligus mendoakan agar amal yang diberikan kepada Kemloko itu dibalas oleh Allah SWT.

Pertemuan ramah tamah sambil makan bersama itu pun berakhir. Setelah itu kami bermpamitan kepada semua masyarakat Kemloko, dan sekali lagi berpesan agar perpustakaan tersebut dirawat dengan baik agar memberi manfaat buat masyarakat Kemloko.

Ketika saya berjalan menuju mobil, tiba-tiba pak Kades menghampiri. ‘’Pak terimakasih sudah bisa mengundang pak Bupati datang ke sini…sakali lagi terimakasih.’’ Itu saja yang diucapkan pak Kades. Sedikit tapi banyak yang tersirat dari ucapan itu.

Keseluruhan acara Kadang Peduli 2011 ditutup dengan makan (halah..makan lagi) brongkos dan entog di rumah mas Dani di Menggoro Tembarak. Bagi yang masih kuat disediakan pula duren sebagian dari hasil panen sendiri sebagian dari Gemawang.

Saya merasakan dua hari berbagi dengan masyarakat Temanggung ini sarat dengan nilai-nilai kebersamaan.

Sampai bertemu di Kadang Peduli 2012

(habis)

Silaturahmi (2)

Malam itu Temanggung hujan rintik-rintik. Setengah harian tadi, sejak siang, Temanggung diguyur hujan. Sempat deras beberapa lama, kemudian berangsur jadi gerimis, sampai malam hari. Malam itu memang direncanakan pertemuan silaturahmi warga FIKT dengan pak Hasyim, di pendopo.

Saya berangkat sepayung berdua dengan bu Nana. Sampai di pendopo kebetulan pas ada pameran purbakala. Di sana ternyata sudah ada dua bersaudara, satu Yang Yut dengan adiknya, pak Sumaji, satunya lagi mas Bambang Wisnu dengan kakaknya, mas Armono. Beberapa saat kemudian mbak Susi muncul. Masih banyak yang belum datang.

Mas Isbud yang pagi hari memberi motivasi di SMP 5 tidak bisa datang karena ada urusan di Semarang. Begitu juga beberapa motivator lain tidak bisa hadir seperti mas Otto Sigit, mas Hery Sugianto, mas Duto di SMA Muntung, mas Singgih Magno, mas Mursyid, mbak Denty, dokter Rina, dll.

‘’Iki ajudan bar ngabari nek pak Hasyim meminta kita masuk,’’ kata mas Armono sembari melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 18.45..

Saya memang bikin janji sama pak Hasyim pukul 18.30, agak disorekan dari rencana semula pukul 19.00, karena pak Hasyim harus berangkat ke sebuah acara di Kranggan pukul 19.30. ‘’Saya itu nanti malam ada acara di Kranggan, mungkin waktunya agak terbatas,’’ kata pak Hasyim saat duduk berdampinagan dengan saya di depan panggung di acaranya bu Nana pagi harinya.

Langsung saja beberapa kadang yang sudah hadir di pendopo masuk ke rumah dinas bupati lewat pintu belakang. Begitu mengetuk pintu, pak Hasyim dan bu Hasyim sudah siap menyambut dengan hangat. Kita masuk di rungan tengah yang luas, meskipun cukup sederhana untuk ukuran rumah dinas bupati. Sembari berbincang-bincang, satu per satu kadang yang lain datang dan langsung masuk ke ruangan.

Beberapa hal diobrolkan malam itu, tak terkecuali soal mbako, karena tahun ini adalah tahun tembakau bagi masyarakat Temanggung, tahun panen raya para petani. Sampai-sampai dealer sepada motor kehabisan stok karena permintaan yang tinggi. Bahkan ada sebuah desa yang melakukan ‘bedol desa’ dengan mendaftar haji. Sayang keberangkatan mereka tahun 2018 nanti, jadi bedol desanya pun harus ditunda.

Hal lain yang diobrolkan adalah fenomena gunung Sindoro. Kata pak Hasyim, apa yang terjadi di Sindoro yang kemudian diberitakan oleh berbagai media sebetulnya peristiwa biasa. Di puncak Sindoro itu ada sembilan lobang yang memancarkan uap dan gas, tapi itu skala kecil. Nah kebetulan saat itu, pas wartawan ke lokasi, hujan lebat, sehingga uap yang dihasilkan cukup tebal. ‘’Itulah yang kemudian ditulis. Jadi tidak apa-apa.’’

Tapi rupanya Sindoro berperilaku lain. Genap tiga hari seteklah pak Hasyim, Sindoro mulai meriang, muncul lobang ke sepuluh yang mengeluarkan asap cukup banyak. Status Sindoro pun dinaikkan menjadi ‘Waspada’. Saat ini badan vulkanologi sudah membuat radius keamanan agar masyaralat tidak gegabah masuk ke radius berbahaya. Pemerintah daerah bahkan sudah menyiapkan jalur evakuasi jika sewaktu-waktu batuk Sindoro lebih keras.

Di ruangan sebelah, tampak bu Hasyim mondar-mandir, mungkin menyiapkan sesuatu, dan…benar. ‘’Monggo..monggo sami dahar, sampun disiapaken’’ kata bu Hasyim mengajak kita-kita makan malam. Biasalah dari kita ada basa-basi, ‘’kok repot’’..’’nembe kemawon’’ dll. ‘’Ini tradisi di desa, kalau mertamu harus disuguh makan….monggo.. monggo,’’ ajak pak Hasyim mempersilakan kita pindah ke ruang makan.

Hmmm…makanan khas Temanggung. Yang saya ingat ada empis-empis, bobor sawi, dan uceng. Makanan yang jarang kita temui di Jakarta.

Usai makan malam yang nikmat, kita kembali ke ruang tengah. Waktu sudah kelewat banyak, saat itu sudah lebih dari pukul 20.00, semestinya setangah jam yang lalu pak Hasyim ke Kranggan. ‘’Ngggak papa…ibu sudah telepon kalau saya datangnya agak terlambat,’’ kata pak Hasyim.

Untuk mempersingkat waktu, saya menutup pertemuan silaturahmi tersebut. Sebelum menutup saya memastikan kembali, pak Hasyim hadir meresmikan perpustakaan yang didirikan FIKT di Kemloko. ‘’Aparat desa, tokoh masyarakat, dan ulama, besok sudah siap, karena undangan buat mereka pukul 06.30,’’ kata saya sembari tersenyum.

Senyum ini memang memiliki arti tertentu, karena sepekan sebelumnya, saya melakukan ‘tawar menawar’ dengan pak Hasyim terkait dengan peresmian perpustakaan di Kemloko.

Ceritahya bermula dari keinginan FIKT agar puncak acara yang berupa peresmian perpustakaan di Kemloko diresmikan oleh pak Bupati. Ketika melakukan survei tiga pekan sebelumnya, saya, mas widodo dan mas khumedi berkunjung ke rumah pak Bupati untuk mengutarakan program Kadang Peduli 2011 sekaligus mengutarakan keinginan agar pak Hasyim bisa meresmikan perpustakaan jam 10.00.

Ternyata pada hari Minggu, 4 Dersember pak Hasyim ada pengajian di daerah Magelang. ‘’Ini pengajian rutin di Magelang, tapi wilayahnya juga belum tahu,’’ kata pak Hasyim.

‘’Jadi bagaiaman pak Hasyim, kira-kira memungkinkan atau tidak ya?’’

‘’Bagaiman kalau diajukan jam sembilan pagi, dari Kemolko nanti saya langsung ke pengajian. Tapi itu juga tergantung wilayahnya, relatif dekat atau tidak dengan Kemloko,’’ kata pak Hasyim. Deal. Sementara begitu putusannya, peresmian pukul 09.00.

Kepastian bahwa pak Hasyim, bisa meresmikan perpustakaan berarti sudah sekitar 80 persen. Kabar baik itu saya informasikan ke teman-teman di Cendekia Mandiri yang berhubngan dengan aparat Kemloko. Seketika aparat desa Kemloko pun berbunga-bunga karena akan didatangi bupati. Maklum sudah dua kali pak Bupati akan datang ke Kemoloko tapi batal karena ada acara lain yang lebih mendesak.

Pak Carik yang sebelumnya pernah bertemu pun minta ke teman Cemani agar saya membuat surat ke pak Kades bahwa pak Bupati akan hadir. Saya awalnya merasa tidak perlu surat menyurat. ‘’Saya telepon aja pak kadesnya,’’ kata saya ke Usna, komandan sekolah Cendikia Mandiri.

Saya telepon lah pak Kades. ‘’Assalamualaikum..Pak Kades, say6a Anif Punto dari FIKT Jakarta..sepertinya pak Bupati akan hadir meresmikan perpustakaan di Kemloko, tulung dibantu nggih,’’ kata saya singkat dan padat, karena memang sekedar pemberitahuan.

Hari Minggu, sepekan sebelum hari H, saya ada acara ke Bandung. Begitu naik mobil yang sudah siap di car port, ada sms dari Usna yang intinya menanyakan pak Bupati jadi datang apa nggak. Wah…saya sudah seminggu lebih tidak kontak-kontakan dengan pak Hasyim, sepertinya sih tidak ada perubahan. Tapi untuk meyakinkan lagi, saya sms pak Hasyim.

‘’Pak Hasyim, nusun sewu, apakah tgl 4 desember nanti masih tetap bisa meresmikan perpustakaan di Kemloko,’’ bagitu kira-kira sms saya.

‘’Wah..hari minggu itu saya pengajian di Grabag.’’

‘’Mungkin bisa kita ajukan jam delapan pagi pak?’’

‘’Mas Anif, kemloko itu ndeso lho..bisanya pertemuan selalu mulur. Apalagi jam 8. Kalau panitia mungkin bisa, tapi masyarakat sana?’’

Wah..ini yang tidak saya perhitungkan. Tapi sudah kepalang basah. Sebelum saya menjawab sms itu, saya telepon Usna.

‘’Us..masyarakat Kemloko iso dijamin bisa datang pagi nggak?

‘’InsyaAllah bisa pak…nanti kita ngoprak-oprak mereka. Pak Carik juga akan Bantu.’’

Batin saya, bisa nggak dioprak-oprak sepagi itu. Untuk lebih meyakinkan lagi bahwa masyarakat Kemloko dijamin hadir jam delapan saya telepon pak Kades.

‘’Pak Kades, niki pak Bupati siap meresmikan ke Kemloko, tapi pagi jam delapan. Kira-kira dijamin mboten nggih masyarakat bisa datang?’’

‘’Saya jamin pak,’; jawab pak Kades. Ok kalo begitu saya menjawab sms pak Hasyim dengan jaminan tinggi.

‘’Pak Hasyim..barusan saya telepon pak Kades, mereka siap jam berapapun, karena kehadiran pak Hasyim sudah ditunggu-tunggu.’’

Agak lama sms itu tidak berbalas. Sekitar 20 menit kemudian datang sms dari pak Hasyim ‘’Maaf saya ragu…karena ternyata saya ada pengajian di Parakan pagi hari sampai jam 07.30.’’

Waduh mepet sekali. Perjalanan dari Parakan ke Pendopo sekitar 20 menit, dari Pendopo ke Kamloko sekitar 30 menit. Belum lagi mempersiapkan ini itu, sebelum berangkat ke Kemloko.

‘’Wah..mepet sanget njjih… mungkin paling tidak pak Hasyim bisa ke Kemloko meskipun cuma sebentar,’’ jawab saya.

Agak lama lagi belum ada jawaban. Begitu mobil melintas KM-80, kriingg…. Oo..pak Hasyim telepon. Inti dari pembicaraan telepon itu adalah pak Hasyim tetap akan ke Kemloko, sampai di sana diperkirakan pukul 08.15, dan nanti pukul 09.00 harus segera turun dan langsung ke Grabag.

Saya segera sampaikan kabar gembira ini ke teman-teman Cemani, bahwa pak Hasyim pasti ke Kemloko. Melegakan. Kalaupun kemudian pak Carik masih minta dibuatkan surat, oke saja, yang penting semua bisa lega bahwa pak Bupati yang ditunggu-tunggu rakyat Kemloko bisa hadir.

Tawar menawar dan jaminan bahwa masyarakat kemloko akan hadir pukul 08.00 itulah arti senyum yang dimaksud di atas.

Sekitar pukul 20.30 kami pun pamitan. Siap-siap menuju Kemloko esok paginya…

(bersambung)

Berbagi Lewat kadang Peduli (1)

‘’Ayo potet-potret ndisik…,’’ teriakan halus mbak maya itu seolah menyihir siapapun yang berada di ruang depan di rumah Suronatan itu untuk keluar bersama. Dalam waktu sekejab, secara naluriah, masing-masing sudah pasang aksi agar kelihatan bergaya saat difoto.

Ya…sebelum berangkat sesuai dengan job-desk dan lokasi yang sudah ditetapkan, semua kadang yang hadir pagi itu berfoto bersama. Momen pertemuan seperti itu memang tidak selalu hadir, jadi tepat rasanya jika diambil foto bersama untuk kenang-kenangan.

Pagi itu, Sabtu 3 Desember 2011, merupakan pagi koordinasi dan konsolidasi untuk pelaksanaan Kadang Peduli 2011 di hari pertama. Tak kurang dari 32 kadang hadir, sebagian besar dari Jadebotabek, dan sebagian lain dari Semarang, Yogyakarta, Purwokerto, dan Temanggung.

Ada yang sampai di Temanggung sejak Jumat pagi, ada yang Jumat siang, sore, bahkan malam, ada pula yang Sabtu pagi langsung ke Suronatan. ‘’Saya nunut mandi ya mas,’’ kata mas Eli sambil menyeret koper kecil yang berisi pakaian. Rupanya dia bersama mas Joni baru datang langsung dari Jakarta dan belum sempat mandi.

Sejak pukul 07.00 poro kadang sudah mulai berdatangan. Kemudian sambil menunggu lengkap, di meja-meja kecil di ruangan depan seluas 9x10 meter itu tersedia ketan kinco dan ‘gandung’. Makanan tradisional itu tambah lengkap manakala mas Dani Susiharto datang membawa setampah makanan ‘rakyat’, ada jagung, sawut, dll.

Sekitar pukul 08.00, ketika sudah banyak yang datang, sarapan digelar. Siapa yang sudah hadir dipersilakan sarapan duluan. Sebagaimana tahun lalu,, makanan wajib yang disajikan adalah empis-empis dan gudeg. Empis-empis tempe hasil masakan sendiri, sementara gudeg dari mbok benik yang buka warung tiap pagi tanpa pernah libur di alun-alun.

‘’Ting..ting..ting..ting…,’’ bunyi gelas yang sengaja saya pukul pelan dengan sendok untuk menarik perhatian.

‘’Kurang seru..,’’ kata mas Topo ketika melihat bahwa poro kadang amsih sibuk dengan urusannya masing-masing.

‘’Ting! Ting! Ting!…’’ saya ulangi dengan lebih keras.

‘’Rekan-rekan semua, waktu sudah makin dekat, mari kita lakukan koordinasi dengan mendengarkan laporan persiapan dari masing-masing koordinator. Silakan mas Punto untuk memimpin koordinasi ini,’’ begitu mas Topo membuka pertemuan ini.

Saya segrra membuka pertemuan informal tersebut dengan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas partisipasi dan kehadiran poro kadang untuk berbagi dengan masyarakat Temanggung. Kemudian satu persatu koordinator lapangan melaporkan persiapan sekaligus membrifing tentang apa yang harus dilakukan oleh para pemberi materi dan motivator.

‘’Pelatihan entreprener siap dilaksanakan,’’ kata mas Dani. Pelatihan ini dilakukan di kecamatan Gemawang. Pemberi materi boleh dibilang lengkap, ada mas Dani yang sekaligus sebagai komandan, ada mas Gus Sur, mbak Maya, mas Nurwanto, dan mas Yudono. Mbak maya dan mas Yud yang merupakan ‘tamu kehormatan’ di pelatihan ini akan berbagai masalah perbatikan dan pendanaan.

‘’Pelatihan menulis guru juga siap, sesuai jadwal,’’ kata mas Irfan, koordinator pelatihan. Ini kali kedua mas Irfan menggawangi pelatihan guru, sehingga sudah tidak nunak-nunuk lagi dalam mengkoordinasi persiapan, termasuk melakukan kontak langsung dengan penghubung di Temanggung, mas Hendro Martono. Pemberi materi di pelatihan ini adalah mas Bambang Indriyanto, petinggi di Diknas, mas Arie Saptadi, sang novelis, dan Susi Ivvaty, wartawan Kompas.

Bu Nana yang akan memberikan pelatihan pengolahan hasil pangan juga sudah siap. ‘’Nanti pak bupati yang akan membuka pelatihan ini. Kalau ada dari FIKT nanti juga ikut mbuka, dan yang penting disampaikan bahwa pelatihan ini merupakan kegiatan FIKT, ‘’ begitu kata bu Nana.

Yang seru adalah mas Khumedi. Dalam sejarah kegiatan motivasi, baru kali ini dilakukan serentak di tujuh sekolahan. Dinamika pelasakanaan sudah terjadi beberapa hari sebelum hari-H yakni soal jadi tidaknya sekolah yang akan diberi motivasi terus menggelinding. Ini memang terkait dengan ulangan umum yang sedang dilaksanakan di SMA, sehingga satu SMA membatalkan, dan satu SMA mengundurkan waktu pelaksanaan, yang semestinya pukul 09.00 menjadi pukul 11.

‘’Tapi insyaAllah semua sudah ok. The show must go on,’’ kata mas Khum sambil membagi-bagi pedoman umum dalam memberikan motivasi siswa. Dalam pedoman itu pemberian motivasi dilakukan secara interaktif, dua arah, dan sersa alias serius tapi santai, sehingga siswa tidak merasa tegang.

Mas Widodo yang mengomandani pendirian perpustakaan juga sudah siap tempur. ‘’Dari sini saya menuju Karangwuni untuk mematangkan persiapan peresmian nanti jam satu. Sorenya saya akan ke Kemloko untuk mempersiapkan peresmian besok, lha ono pak bupati je..’’ kata mas Widodo. Tahun lalu mas Widodo disibukkan pembukaan tiga perpustakaan, tahun ini kesibukannya sedikit berkurang karena hanya dua perpustakaan. Bedanya, tahun kemarin tidak ada yang diresmikan bupati, sedangkan tahun ini ada.

Terakhir adalah penjelasan dari mas Said soal pelatihan perpustakaan digital. Ini memang program tambahan yang tidak direncanakan. Berawal dari sms mas Said soal pentingnya perpustakaan digital untuk Temanggung, saya kemudian menghubungkan dengan mas Bambang Edhi, kadinas Arsip dan Perpustakaan. Terjadilah komunikasi antara mas Said dan mas Bambang yang berakhir dengan pelaksanaan pelatihan perpustakaan digital

Semestinya ada enam kegiatan (diluar perpustakaan digital) yang dilaksanakan hari Sabtu ini, yakni pelatihan entrepreneur, pelatihan menulis guru, pelatihan pengolahan hasil pertanian, motivasi siswa, pembukaan perpustakaan, dan pelatihan fotografi untuk siswa. Sayang pelatihan fotografi tidak bisa dilakukan serentak, karena masalah ulangan umum tadi. Pelatihan fotografi diundur menjadi hari Minggu.

***

Pukul 09.05 saya sampai di gedung Ketahanan Pangan, sebuah gedung yang terletak antara Kerkop dan pom bensin lama (sekarang kantor Telkom). Di situ saya menemani bu Nana yang akan memberikan pelatihan pengolahan hasil pertanian. ‘’Alhamduylillah iki minat masyarakat Temanggung kon gede banget…biasane peserta pelatihan seperti ini pesertane 40-50 iki kok sampai satus,’’ kata bu Nana.

Ketika tiba di lokasi, semua peserta sudah siap. Tapi karena yang membuka nanti adalah pak Bupati, maka kamipun menunggu kedatangan pak Bupati yang pagi itu acaranya sangat padat. Sekitar pukul 10.00 pak Bupati datang, langsung masuk ke ruangan, dan pembukaan acara pun dimulai.

‘’Program FIKT itu ada tiga sektor, yaitu paguyuban atau kumpul-kupul, soaial, dan partnership dengan Pemda. Kegiatan pelatihan ini merupakan gabungan antara sosial dan partnership,’’ begitu yang saya sampaikan dalam pembukaan. Ini sesuai pesan bu Nana, bahwa pelatihan ini merupoakan kerja dari FIKT, meskipun dalam backdrop tidak ada logo FIKT yang tertempel.

Pak Bupati dalam pembukaan banyak mengungkap tentang keberhasilan Temanggung sebagai daerah yang surplus jagung dan beras. Selain itu juga menyinggung betapa pentingnya memberikan nilai tambah kepada produk pertanian. ‘’Telo nek didol mentahan regane murah, tapiu nek wis di iris-iris terus digireng, regone iso berlipat-lipat,’’ kata pak Bupati menerangkan betapa tingginya harga sebuah barang jika sudah diberi nilai tambah.

Begitu pembukaan selesai, saya langsung menuju ke tempat pelatihan penulisan guru di SMK 2. Tiba di sana mas Bambang Indri sedang memberikan materi tentang menulis karya ilmiah. Pesertanya adalah guru-guru SD terutama yang berada di pelosok. Karena mereka inilah yang jarang tersentuh oleh berbagai pelatihan. Mereka pun tampak antusias. DI situ sempat ngobrol sama mas Irfan dan mas Arie Saptaji yang sesi siang nanti akan memberikan materi menulis sastra.

Tak lama di situ, saya meluncur ke gedung perpustakaan daerah. Niatnya pengen lihat pelatihan untuk perpustakaan digital, tapi sampai lokasi acara sudah selesai. ‘’Baru saja selesai mas, peserta melebihi undangan, snack katanya sampai kurang,’’ kata mas Said. Alhamdulillah.. Karena acara sudah selesai, saya balik lagi ke pelatihan menulis guru, sambil tak lupa membawa besekan untuk makan siang.

Begitu sampai di SMK-2, langsung koordinasi sama mas Bambang Indri untuk meluncur ke Kabupaten. DI sana akan dilakukan pemutaran film ‘Mestakung’ yang intinya untuk memberikan pelajaran karakter buat siswa. Ini juga program yang kebetulan berbarengan dengan Kadang Peduli. Di acara itu, Dedi ‘Miing’ Gumelar’ akan hadir. Beberapa hari sebelumnya saya sudah sms-an sama mas Miing ini yang intinya jiia waktunya memungkinkan akan saya ajak keliling melihat kegiatan yang FIKT lakukan.

Saya dan mas Bambang Indri sampai duluan di kabupaten. Setelah beberapa saat ngobrol dengan pejabat Diknas di Temanggung, mas Miing datang dengan rombongan yang terdiri atas pemain dan sutradara dari film Mestakung.

‘’Mas anif kok bisa di sini?’’

‘’Saya kan asli Temangghung mas… Ini mas Bambang Indri senior saya…’’

‘’Oo gitu.. lha kalau mas Anif ini senior saya di Republika,’’ kata mas Miing ke mas Bambang Indri.

‘’Mas miing kan juga seniornya mas Bambang Indri… Jadi kita saling seniorlah,’’ jawab saya disambut derai tawa bersama…hahahahaha.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, kami sholat luhur bersama di mushola. Begitu selesai sholat pak wakil bupati sudah menunggu. Sedikit basa-basi, akhirnya mereka menuju ke rungan untuk menonton film. Saya sendiri harus pamitan karena harus meresmikan perpustakaan ‘Kadang Ulum” di Karangwuni, Pringsurat.

Saat itu sudah pukul 12.40, sementara jadwal peresmian pukul 13.00. Mau tidak mau agar tidak terlambat, mobil harus dipacu agak kencang, meskipun hujan turun dengan derasnya. Beruntung teman sepermainan saya waktu di kampung dulu, Agus Polo, mau mengantar kesana-kemari, sehingga saya bisa konsentrasi ke kegiatan, tidak terganggu masalah sopir-menyopir.

Tepat pukul 13.00 saya sampai Karangwuni. Lho?? Kok masih kosong? Rupanya mas Widodo, mas Joni, dkk menunggu di rumah sebelah masjid, sementara saya langsung menuju perpustakaan. Pantas kok sepi. Tapi masyarakat Karangwuni juga belum tampak sama sekali, kecuali satu dua anak muda yang nantinya akan mengurus perpustakaan tersebut.

Ketika masuk ke perpustakaan yang belum diresmikan itu, ada beberapa anak yang sudah melihat-lihat buku. Sebagian besar buku masig plastikan, sehingga mereka hanya menatap sampul-sampul buku. Saya ambil tiga set ensiklopedia, saya buka plstiknya, dan saya berikan ke anak-anak itu untuk membaca. Senang melihat betapa antusiasnya anak-anak itu membuka-buka buku dan mengamati gambar-gambar yang ada dibuku.

Acara baru dimulai pukul 14.10. Kepala desa dan juga mantan kepala desa hadir, tak terkecuali ulama dan tokoh masyarakat lain. Di situ juga ada mas Budi yang menjadi kontak person untuk pendirian perpustakaan ini. Hadir juga mas Bambang Edhi, kadinas Arsip dan Perpustakaan. Pak camat yang kita undang tidak bisa hadir karena masih berduka, putra kesayangannya meninggal karena kecelakaan lima hari yang lalu.

‘’Terimakasih kepada FIKT yang memberikan perhatian kepada desa kami untuk didirikan perpustakaan,’’ kata kepala desa Karangwuni yang tidak pernah lepas dari asap rokok. Mantan kepala desa juga mengatakan hal serupa, dengan sedikit menceritakan bahwa ketika dia menjadi kepala desa, perpustakaan di Kawangwuni pernah menyabet sebagai juara-2 propinsi.

Persemian dilakukan dengan membuka selubung atau tepatnya korden yang tadinya menutup papan nama. Selama peresmian tersebut, hujan nyaris tidak pernah reda. Dalam kondisi hujan itu pula acara selesai, dan masing-masing pulang ke rumah untuk beristirahat, karena malamnya akan dilakukan silaturahmi dengan pak Bupati di pendopo.

(bersambung…)

Friday, December 16, 2011

Hasil Survei Kadang Peduli 2011 (2-Habis)

Wonotirto

Pria berbadan kecil dengan kulit kehitaman itu terlihat gelisah. Jaket berwarna gelap yang tadinya merekat di tubuh rampingnya itu dilepas dan disampirkan di stang motor. Sepertinya dia sudah cukup lama menunggu seseorang . Sesekali pria itu duduk di sadel motornya, sesekali berdiri, sesekali pula terlihat jongkok untuk mengurangi kekesalannya.

Lantas diambilnya HP di saku celananya. Diketiklah rangkaian kalimat kepada seseorang yang ditunggu tapi belum datang juga meskipun sudah lewat satu jam. ''lha kiye temanggung parakan macet, nganti sak jam...hahaha.'' itulah sms dari pak Mukidi yang dikirimkan ke saya, minggu pagi (13 Nopember 2011).

Sehari sebelumnya memang saya sama mas Widodo dan mas Khumaedi janjian untuk ketemu pak Mu di pertigaan kali Galeh jam delapanan. Dari situ nanti kita sama-sama naik ke desa Wonotirto untuk survei lokasi pendirian perpustakaan. Tapi rupanya pagi di Temanggung terlalu indah untuk dilewatkan di luar, selimutan kandel rasanya lebih enak. Lagi pula ada alasan yang lebih rasional yaitu loket bus untuk perjalanan sore baru buka jam sembilan. Mas Wdodo yang Senin pagi harus sampai Jakarta, terpaksa menunggu loket buka untuk membeli karcis buat minggu sore.

Jadilah akhirnya jam sembilanan kita bertiga cabut menuju Parakan. Sampai di pertigaan rumah sakit Galeh, lampu dim saya nyalakan ke arah pak Mu, pertanda kita siap langsung ke atas. Tanpa harus ada pembicaraan, pak Mu langsung pake jaket dan nyetarter motor lanangnya. Wuuss..langsung pak Mu tancap gas menuju ke atas, kami kemudian tinggal mengikuti.

Jalan menuju Wonotirto sejalan dengan arah ke desa Cepit, sebuah desa yang tidak asing lagi bagi para pendaki gunung. Desa Cepit merupakan salah satu desa terakhir di lereng timur-utara gunung Sumbing. Di sinilah basecamp pendakian. Biasanya pendaki tiba di Cepit sehabis isya, kemudian ngobrol-ngrobrol sama sesama pendaki lain. Jam sepuluh malam tidur, dan bangun jam satu dinihari, langsung mendaki. Jika perjalanan lancar, pukul lima pagi hari sudah sampai puncak, dan para pendaki bisa menikmati sun set yang indah di sebelah timur.

Setelah perjalanan naik sekitar empat kilometer, tepatnya di desa Pagergunung, jalan menjadi bercabang, yang lurus menuju desa Cepit yang belok kanan menuju Wonotirto. Kami ambil jalan ke kanan. Tidak sepeti jalan menuju Cepit, rupanya yang menuju Wonotirto belum diaspal, jadi masih berupa jalan trasahan. Jalanannya pun sempit dan berliku. ''Kalau berpapasan dengan kendaraan, yang di atas ngalah, berhenti,'' kata pak Mu.

Perjalanan ini mengingatkan perjalanan ke desa Cemoro di Wonoboyo tahun lalu. Cemoro, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan kabupaten Wonosobo. Masyarakat di sana lebih sering ke Wonosobo dibanding ke Temanggung, karena ke Wonosobo butuh waktu kurang dari satu jam sedangkan ke Temanggung dua jaman. Jalanan ke Wonosobo relatif lebih bagus dibanding ke Temanggung. Kata pak Bupati, tahun depan, jalan yang menuju ke Cemoro sudah beraspal, bahkan sampai ke perbatasan Wonosobo.

Sampai di Wonotirto, kami langsung ke rumah pak kepala dusun yang juga ketua kelompok tani. Saat itu rumah yang biasa digunakan untuk berkumpulnya kelompok tani sedang diganti reng dan genting. pengerjaan dilakukan secara gotong royong. ''Kita melakukan gotong royong setiap hari minggu pon,'' kata pak ketua kelompok tani. Hari itu ada dua rumah yang 'direnovasi' atapnya, dan dua-duanya dikerjakan oleh masyarakat.

Ngobrol sebentar di ruang tamu, mulai dari cuaca sampai suksesnya tembakau tahun ini, yang kata pak Mu, harga tembakau minimal seratus ribu per kilo. Pantas saja banyak rumah yang direnovasi, bahkan ada yang dibangun kembali. Di pagi yang dingin itu kami juga disuguhi kopi luwak, kopi yang di Eropa sana bisa sekitar dua ratus ribu per cangkir.

Kopi luwak itu hasil dari budidaya mereka, dengan mengkandangkan luwak dan kemudian si luwak itu diberi kopi untuk dimakan. Tidak semua kopi dimakan, hanya kopi terpilihlah yang dimakan luwak. Kopi yang dimakan itu akan terkelupas bijinya, dan keluar bersamaan dengan kotoran luwak. Meski keluar dari kotoran luwak, berdasakan kajian MUI, kopi luwak tetap halal. Sempat juga kami melihat luwak peliharannya.

Survei lokasi dilakukan di sebelah rumah pak ketua tadi yang juga menjadi tempat berkumpulnya kelompok tani. Tapi rupanya rumah itu milik pribadi keluarga pak ketua. Kita punya prinsip, gedung atau ruang untuk perpustakaan harus milik umum, bisa balaidesa, sekolahan (yang tidak berpagar), atau gedung milik organisasi yang juga untuk umum. Kami tidak merekomendasikan tempat itu.

Kemudian dicarilah lokasi lain. Ada balai dusun yang lokasinya strategis, diperempatan jalan. Di sebelahnya ada lapangan yang bisa digunakan untuk voli atau semacamnya, jadi cukup sering menjadi arena berkumpul warga, baik anak-anak maupun remaja. Sayang kondisinya parah. Mereka tidak sanggup untuk merenovasi gedung dusun itu dalam waktu hanya tiga minggu. Gugur lagi.

Pilihan terakhir yang sebagai alternatif adalah TPA yang memang baru dibangun. Rupanya lokasi TPA ini berada di ujung atas dusun, jalan yang menanjak cukup membuat kami menggeh-menggeh. ‘’Boyok tuwo wis ra iso diajak kompromi.’’ Jarak dari balai dusun mungkin cuma empat ratus meter, tapi karena menanjaknya cukup tajam, sesekali harus berhenti mengambil nafas.

Sampai di lokasi kami langsung melihat-lihat ruangan yang bisa digunakan. Dari sisi ruangan, boleh. Tapi dari sisi keterjangkauan, tidak memungkinkan. Tempatnya terlalu diatas, dipinggir desa. Lagi pula juga tidak persis di pinggir jalan, meski hanya keletan satu rumah, tapi akan cukup menganggu orang atau anak-anak untuk keluar masuk ke runagan itu. Tidak recomended.

Akhirnya kami rapat singkat bertiga untuk memutuskan apakah tetap dibuka perpus di Wonotirto atau tidak. Keputusannya: Tidak. Bagaimanapun kita harus strik pada kriteria yang sudah kita tetapkan. Dan inilah gunanya survei yang bukan survei-surveian. Tapi dengan catatan, jika balai dusun itu sudah jadi tahun depan, maka Wonotirto akan jadi prioritas.

Keputusan ‘tidak’ sudah diambil. Tapi masalahnya, kita sudah gembar-gembor akan mendirikan tiga perpustakaan. Saya kemudian ingat, sebelumnya mas Joni mengusulkan ada desa di Kedu yang siap untuk didirikan perpustakaan. Tapi saat itu Kedu kalah dengan Pringsurat dengan pertimbangan, FIKT belum pernah membuka perpustakaan di wilayah timur yang notabene secara ekonomi juga bukan wilayah makmur.

Saya langsung kontak mas Joni. Gagal, hp-nya mati terus. Saya kirim sms agar segera hubungi saya. Beberapa saat kemudian, telepon bisa terhubung. ''Wah...ketoke yo ra iso mas nek dadakan ngene,'' itu kata pamungkas dari mas Joni. Rasanya memang mustahil untuk mempersiapkan perpus hanya dalam waktu tiga minggu, karena yang disiapkan bukan hanya fisik berupa tempat dan rak, tapi juga kesiapan mengelolalnya.

Begitulah, akhirnya satu calon lokasi gagal dan tidak ada penggantinya. Pendirian perpustakaan jadinya hanya dua.

Kami bertiga kemudian berbicara baik-baik mengenai keputusan itu dengan pak Mu dan pak ketua kelompok tani. Mereka pun paham dengan alasan yang kita kemukakan. Akhirnya kami pun pamit pulang. Tapi sebagaimana adat di pedesaan Temanggung, setiap tamu harus makan, maka kamipun makannn...

Ketika menuju arah pulang, kami sempat bertemu dengan mantan lurah Cepit yang tak lain keponakan mas Widodo. Dalam benak kita yang namanya manten itu ya sudah cukup tua, pakai kopiah, pakai baju ya batik, mobil carry atau kijang. Lha ini lain, penampilannya koboi, pakai baju kotak yang dimasukkan dicelana jean, sepatu semi booth. Mobilnya? Willys! Top pokokmen.

Tak lebih dari sepuluh menit kita ngobrol, karena jam satu siang harus ketemu pak bupati di Pendopo. Saat itu sudah jam setengah satu, sementara saya harus datang ke kondangan dulu. dari Parakan kami langsung ke Pendopo sekalian melihat pameran fotografi yang digelar Koforte. Sehari sebelumnya saya sudah menikmati foto-foto yang dipamerkan, gantian mas Widodo dan mas Khum yang hari itu melihat-lihat foto. Saya pamit sebentar kondangan yang kebetulan lokasinya di gedung di belakang Pendopo.

Bergegas saya masuk ke gedung karena waktunya memang sudah kesiangan. Begitu jalan menuju pelaminan untuk salaman dengan pengantin, ehh..pethukan sama pak Hasyim yang sudah mau pulang. ''Mangkeh sios to? '' kata pak Hasyim ketika kami salaman. ''Njjih pak, nanti saya langsung ke sana,'' jawab saya. Kalau sama sesepuh memang saya banyak bicara campuran kromo dan bahasa Indonesia, termasuk sama pak Hasyim. Untuk kata-kata yang saya bisa kromo, ya kromo, kalo kromonya nggak tahu, ya bahasa Indonesia saja.

Beberapa lama kemudian, saya, mas widodo, mas khum sudah berbincang dengan pak Hasyim di beranda belakang rumah dinas bupati. Saya menyampaikan program yang akan FIKT lakukan pada 3-4 Desember nanti. saya laporkan juga kalau saya sudah bertemu dengan beberapa kepala dinas untuk mengkoordinasi acara yang kami lakukan.

Kami juga minta agar pak Hasyim bisa membuka perpustakaan di Kemloko yang sekaligus akan kita jadikan acara puncak Kadang Peduli 2011. ''Minggu tanggal 4 itu saya harus ke Magelang, mengisi pengajian,'' kata pak Hasyim.Memang sudah saya duga, sebagaimana tahun lalu, setiap awal bulan pak Hasyim selalu mengisi pengajian. Maklum selain sebagai bupati, pak Hasyim ini juga sudah terkenal sebagai penceraham agama.

Akhirnya terjadi titik temu. Karena pengajiannya agak siang, maka pembukaan perpustakaan diajukan, agar dari situ pak Hasyim bisa langsung ke lokasi pengajian di Magelang. No problem. Jadi peresmian diperpustakaan yang sudah kita jadwalkan jam sepuluh pagi, nanti dimajukan menjadi jam sembilan. Begitu selesai membuka, pak Hasyim akan segera meninggalkan tempat. Sementara kita nantinya tetap di situ sampai acara benar-benar selesai.

Dari pendopo, sebelum pulang ke rumah masing-masing, kami ke rumah mas Khumaedi. Apa yang kita lakukan di sana? Makan! Saya menyamai rekor mas Widodo sehari sebelumnya, yaitu makan sebanyak tiga kali dalam selang waktu kurang dari empat jam. Makan di Wonotirto, di kondangan, dan di mas Khumaedi. Wareg dan gratis kabeh... Ketika mau pulang, masih disangoni jenang tape yang dibikin oleh keluarha mas Khumaedi. Bagi yang akan merasakan jenang tapi itu, silakan ikut rapat persiapan Kadang peduli ri rumah saya, hari minmggu besok.

Begitulah perjelanan survei persiapan KP 2011. Semoga acara pada Desember nanti berjalan lancar sesuai harapan... terimakasih..maturnuwun..@


Friday, December 9, 2011

Survei Kadang Peduli 2011 (1)

''mas, pantura macet parah, aku lagi tekan tegal.''

Begitu isi sms dari mas widodo, saat itu sabtu (12/11/11) sekitar jam delapan pagi. Kalau jam delapan masih di Tegal berarti sampai Temanggung paling cepat jam satu siang. Hampir pasti mas widodo tidak bisa gabung dalam pertemuan dengan beberapa kepala dinas yang sudah dijadwal jam sepuluh pagi. Mas khumedi yang juga mau ke Temanggung juga baru nyampai siang menjelang sore.

Hari sabtu itu, acara yang sudah terjadwal memang cukup padat. Setelah pagi bertemu dengan beberapa kepala dinas Temanggung, siangnya ketemu sama mas Khamim mbahas tentang pelatihan fotografi. Setelah itu sudah ditunggu teman-teman Cemani di Kemloko yang dijadwalkan pukul dua siang. Sore atau malam, ke Karangwuni, Pringsurat untuk mensurvei lokasi perpustakaan yang mereka siapkan.

Kebetulan pagi itu, teman lama, satu angkatan di atas saya, Petrus, datang ke rumah sekitar jam sembilanan. Setelah ngobrol ngalor ngidul, termasuk kegiatan Kadang Peduli 2011 (tahun lalu Petrus ikut mengisi motivasi siswa di SMK Bansari), langsung saja mantan roker itu saya ajak ke pertemuan dengan kepala dinas di gedung perpustakaan daerah di kowangan.

''Lha nyong kaosan ngene ki...''

''Ha wis ra popo..roker kok, yo dimaklumi...hehehe,'' jawab saya.

Syahdan, sebelum jam sepuluh kami berdua sudah sampai ke gedung perpus. Mas Bambang Edhi, kepala dinas perpustakaan sudah ada di tempat. Bertiga kami ngobrol sana sini sambil menunggu kedatangan tiga kepala dinas yang lain yakni kepala dinas pendidikan (pak Edhi), kepala dinas perindustrian dan ukm (bu Roni), kepala dinas ketahanan pangan (bu Syiam). Untuk mengundang para penggede di Temanggung itu saya minta tolong mas Romadhon yang ada di Sekda.

Sekitar jam sepuluh lebih sedikit peserta lengkap, hanya pak Edhi yang tidak bisa hadir dan diwakilkan ke pak Mujiono. Untuk menyingkat waktu, pertemuan langsung di buka oleh tuan rumah, mas Bambang Edhi.

Hasil Pertemuan:

1. Untuk pelatihan menulis guru nanti sertifikat akan ditandatangani kepala dinas pendidikan dan mas Bambang Indri (Diknas Pusat). Mas Bambang Indri juga akan memberikan materi menulis kepada guru. Pemberi materi lain adalah Susi Ivvaty (wartawan Kompas) untuk penulisan populer dan Arie Saptaji (novelis) untuk penulisan sastra. Peserta biasanya sekitar 70-100 guru.

2. Untuk pelatihan entrepreneur akan dilakukan di Gemawang, dengan peserta sekitar 25-30 orang. Kenapa Gemawang, karena di situ sudah ada beberapa produk yang dihasilkan masyarakat tetapi belum bisa optimal dalam manajemen dan penjualan. Mereka butuh sentuhan entrepreneurship. karena itu pelatihan diberikan di sini. Mas Dani Susiharto yang akan memberikan pelatihan..

3. Untuk pelatihan pengolahan hasil pertanian, akan dilaksanakan di gedung ketahanan pangan. Sebagaimana biasa yang sudah sering dilakukan di Temanggung, yang memberi pelatihan adalah bu Nana Richana. Peserta sekitar 50-an.

Selesai pertemuan sekitar jam dua belasan, perut mulai keroncongan. saatnya maksi. Langsung saja sama mas Petrus tancap gas menuju batoar: ngupat tahu!

Sehabis ngupat langsung meluncur ke pendopo, janjian sama mas Khamim, ketua Koforte Temanggung. Saat itu juga sedang digelar Pameran Foto Koforte di pendopo. Pas tiba di pendopo, ada beberapa orang sedang menikmati foto-foto yang disajikan. Sesaat kemudian rombongan anak-anak sekolah datang. ''Kalo jam sekolah selesai banyak anak-anak yang kesini, jadi rame,'' kata mas Khamim.

Pameran mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Apalagi saat pembukaan bertepatan dengan bubarnya upacara ulang tahun Temanggung pada 10 Nopember silam. Begitu upacara selesai, pak Bupati langsung membuka secara resmi pameran foto Koforte. Pejabat-pejabat Temanggung pun ikut larut dalam keramaian pengunjung pameran yang berlangusng sampai 13 November.

Pertemuan dengan mas Khamim membahas persiapan pelatihan fotografi buat anak SMA dan sederajat. Saat ini sudah cukup banyak anak-anak SMA yang menunjukkan minatnya dalam bidang fotografi. Bahkan di SMA-1 sudah ada komunitas fotografi. Tak salah kalo pakar-pakar foto dari Koforte, baik di Temanggung atau di rantau, berbagi ilmu kepada mereka. Jika memungkinkan, peserta pelatihan diajak hunting bersama di Kemloko saat peresmian Perpustakaan.

''mas bis-ku mogok di ungaran. aku ganti bis.'' Sms dari mas widodo tiba-tiba muncul lagi. Walah..nasib-e mas widodo kok asyik men. Itu sekitar jam duaan siang. ''yo wis mas, ntar tak jemput di secang.''

Sekitar jam tiga sore berangkatlah ke Secang menjemput mas widodo. Mas Khumedi yang mendarat di Jogja beberapa jam lalu, sudah sampai Magelang. Sekalian saya sms untuk ketemuan di Secang. Sekitar jam empat sore, kami bertiga ketemu di secang, ngopi-ngopi sebentar terus langsung cabut menuju Kemloko lewat jalan pintas yang melintas desa Plumbon. ''Biyen gus sur nek pacaran nang kali kene kiye..,'' kata mas Widodo saat melintas di sungai irigasi yang bersebelahan dengan kali Progo.

Begitu masuk wilayah Tembarak, yang terpikirkan pertama kali adalah: brongkos! Maka sebelum naik ke Kemoloko, kami mbrongkos dulu biar kunjungan ke Tembarak terasa lebih lengkap. Tiga porsi brongkos, ada yang kepala, ada yang lidah, ditambah masing-masing jeruk anget, cukup Rp 52 ribu. Murah, wareg, enak, marem...plus darah tinggi kumat.

Selesai pesta kepala kambing, langsung naik ke atas, menuju Kemloko yang jaraknya empat atau lima kilometer. Jalanan beraspal, tapi sebagian besar sudah rusak. Di beberapa tempat, aspal terkelupas, tinggal menyisakan jalan trasah. Kaca mobil sengaja dibuka biar seger. Sesekali tercium bau harum 'lemi' yang teronggok di pinggir jalan.

Begitu sampai di Kemoloko, sholat sebentar, dan langsung bertemu dengan kepala dusun dan pengurus Ipnu, ikatan pemuda NU di balai dusun. Pemuda NU inilah yanhg nantinya akan merawat perpusatakaan bersama teman-teman di Cendikia Mandiri (Cemani) yang sudah berkiprah di bidang pendidikan di Kemoloko selama sekitar lima tahun. Cemani tahun ini sudah mengantarkan sekitar 16 muridnya lulus ujian paket B untuk SMP. Anak-anak ini tadinya hanya lulus SD dan tidak melanjutkan sekolah.

Dari pertemuan dengan pengurus dusun, Ipnu, dan Cemani, disepakati lokasi perpustakaan berada di gedung pertemuan Ipnu. Ruang gedung itu nantinya akan disekat dengan sekat yang mudah dibuka dan ditutup. Jika runagan dipakai untuk pertemuan, sekat bisa dibuka, dan jika sudah selesai, sekat ditutup lagi untuk perpustakaan. Ukuran ruang yang disekat sekitar 7x4 meter.

Pertemuan berlangung sekitar satu jam. Singkat, padat, dan memang dipercepat. Bukan apa-apa, karena dari situ harus ke Karangwuni di Pringsurat. Tapi sebelum pulang, kami 'diwajibkan' untuk makan dulu dengan hidangan khas mereka: nasi jagung. Hukum bertamu di Temanggung, terutama di desa-desa, sang tamu harus makan.

Maka, saat itu sekitar jam enam sore, makanlah kami rame-rame dengan teman-teman Cemani. Praktis dalam dua jam terakhir kami makan dua kali. Mas widodo lebih dahsyat lagi, jam tiga makan di Secang, jam setengah lima makan brongkos di Tembarak, dan jam setengah tujuh makan nasi jagung.

SMP. Sehabis Makan Pulang. Jadi begitu selesai makan nasi jagung, kami langsung cabut dari Kemloko. Sembari menuju Pringsurat, kita nyamperi mas Philip, kepala sekolah di sebuah SMP yang aktif di kepramukaan. mas Philip ini tahun 70-an akhir sangat terkenal di Temanggung sebagai penyanyi. Jadi kalau diurut-urut, penyanyi yang terkenal tahun 70-an itu adalah mas Danny, terus generasi berikutnya mas Philip, dan kemudian mas Isbud. Beliau-beliau ini yang merajai kejuaraan pop singer di Temanggung..

Mas Philip bergabung menuju Karangwuni. selain bernostalgia, di mobil, kami berempat berembug mengenai motivasi untuk murid SMP dan SMA. Mas Philip memang kita minta untuk menjadi penghubung FIKT untuk Kadang Peduli 2011 dalam program motivasi. Dialah yang nati akan memilih sekolah mana yang akan kita beri motivasi. Dari kita syaratnya hanya satu: sekolah pinggiran yang murid-muridnya cenderung minderan.

Sampai di Karangwuni, langsung menuju rumah mas Budi. Ngobrol ngalor ngidul dengan mas budi dkk ternyata salah satu anak muda yang ada di situ sedulurnya mas Wdodo. Entah kenapa setiap saya bersama mas Widodo kemudian ketemu dengan beberapa orang Temanggung, begitu berkenalan kok salah satu atau salah dua mesti saudaranya mas Widodo. ''Dulur neh kiye mas...,'' begitu biasanya mas Widodo setiap ketemu orang.

Di situ ternyata juga ada teman lama mas Khumedi ketika di STM. ''lha de'e kok manglingi, ndak khumedi..,'' kata teman lama itu. Kebetulan juga, teman lama mas Khum itu juga teman lama mas Widodo. ''Ha nek karo dodo iki mbiyen sak kamar nang kos-kosan gek kuliah nang UNS solo,'' katanya. Mas philip juga sedikit nyambung dengan mereka-mereka. Hanya saya yang plonga-plongo ra ono sing kenal, cukup melu ngguya-ngguyu aja.

Kami kemudian diskusi sebentar dengan suguhan teh anget dan martabak soal perpustakaan. Dari situ kemudian kami ngecek lokasi yang akan dijadikan perpustakaan. Saat itu sudah sekitar pukul sembilan malam. Begitu tiba di lokasi yang jaraknya hanya tiga puluh meter dari rumah, tiba-tiba hujan deras. Tapi dari hujan deras itu kita jadi tahu bahwa ruang yang tadinya disiapkan untuk perpustakaan di lantai dua tidak memadai. Air hujan bisa masuk, sehingga bisa merusak buku.

Akhirnya kami putuskan ruang perpustakaan tetap di lokasi itu, tapi di lantai bawah. Ukuran sekitar 3x4 meter. Tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk meletakkan rak buku, komputer dan ruang untuk membaca. Biasanya memang rak buku hanya berada di pinggir, sehingga bagian tengah bisa untuk membaca.Bisa dikasih meja, atau bisa juga lesehan kalau ruangan sudah di karpet.

Deal. Pertemuan selesai pukul sepuluh malam. Langsung pulang. Langsung tidur. Besok paginya harus ke Wonotirto untuk survey lokasi... (bersambung)