Wednesday, December 10, 2008

Bunga Acuan Turun

Setelah ditunggu sekian lama, akhirnya Bank Indonesia (BI) menurunkan bunga acuan, BI Rate, dari 9,5 persen menjadi 9,25 persen. Meskipun penurunannya sangat tipis, tetap memberikan angin segar buat perbankan dan dunia usaha.

Di antara sekian banyak negara yang terkena krisis, BI barangkali yang paling terakhir merespons dengan penurunan bunga. Amerika Serikat, misalnya, yang menjadi biang dari krisis global sudah menurunkan bunga sejak awal, hingga kini terus mendekati satu persen. Begitu juga negara-negara Eropa yang terus berlomba menurunkan bunga.

Memang, tidak mudah untuk menurunkan suku bunga bagi BI. Setidaknya, ada dua alasan. Pertama, laju inflasi yang masih relatif tinggi. Kedua, rupiah yang cenderung terus merosot dari sebelumnya, Rp 9.400 per dolar kini berada di sekitar Rp 12 ribu per dolar.

Tapi, kini kondisinya sudah mendukung BI agar melakukan penurunan bunga. Inflasi, misalnya, pada November silam hanya 0,12 persen sehingga inflasi tahunan 11,68 persen. Angka itu masih dalam koridor yang aman. Biasanya, pada Desember, inflasi naik. Tetapi, tahun ini tampaknya tidak begitu tinggi karena masyarakat sudah mulai berhemat, terutama untuk barang nonprimer.

Lain lagi kasus rupiah. Meskipun saat ini posisinya masih lemah, tampaknya bunga tinggi yang ditetapkan BI tak mampu mendorong penguatan. Masalahnya, pelemahan rupiah saat ini bukan karena perpindahan dana ke negara lain yang lebih menguntungkan, melainkan karena penarikan dolar oleh perusahaan di Amerika untuk menyelamatkan perusahaan induknya.

Harapannya, penurunan ini menjadi stimulus bagi pelaku usaha untuk menjalankan usahanya tahun depan. Apalagi, diperkirakan puncak krisis ini akan terjadi justru pada semester pertama 2009 nanti. Dengan begitu, perlu sebuah langkah untuk mengantisipasi agar pada saat puncak krisis nanti tidak terlampau membahayakan perekonomian nasional.

Mengapa menjadi stimulus? Karena, dengan penurunan BI Rate ini, perbankan juga akan menurunkan suku bunganya. Kita tahu dalam beberapa bulan terakhir ini kondisi keuangan sangat ketat sehingga perbankan saling berebut dana. Akibatnya, terjadilah perlombaan kenaikan bunga. Jika sudah begitu, ujung-ujungnya yang terkena adalah debitor karena bunga kredit juga melonjak.

Kabar baik lagi, nyaris bersamaan dengan penurunan BI Rate ini, pemerintah menggelontorkan dana anggaran negara sebesar Rp 33 triliun. Otomatis, dana anggaran 2008 ini melonggarkan likuiditas di perbankan. Dengan begitu, perang bunga tak akan ada lagi. Perbankan juga harus memangkas kembali suku bunga kreditnya yang saat ini sudah memberatkan debitor.

Penurunan bunga juga akan mendorong sektor riil untuk menggeliat. Karena, dengan kondisi likuiditas yang kendor, perbankan lebih leluasa dalam penyaluran kreditnya. Pelaku usaha pun bisa sedikit lega karena selama ini mereka terjepit oleh lesunya pasar lantaran krisis global dan suku bunga yang tinggi. Kini, setelah bunga turun, tantangannya tinggal menaklukkan kelesuan global.

Perekonomian nasional memang sedang menghadapi tantangan berat. Saat ini saja, ratusan pekerja sudah harus kena PHK. Tidak ada cara lain untuk bisa tetap bertahan, kecuali memberikan rangsangan pada dunia usaha untuk tetap bertahan. Kalau bisa, juga mengembangkan usahanya. Penurunan BI Rate menjadi salah satu titik rangsangnya.

Dimuat di tajuk Republika edisi 5 Desember 2008

No comments: